Wikipedia

Search results

Wednesday, December 24, 2014

Sunnatullah dan Inayatullah

KEBERHASILAN seseorang mencapai kesuksesan atau terhindar dari sesuatu yang tidak diharapkannya ternyata amat bergantung pada dua hal, yaitu sunnatullah dan inayatullah.


Sunnatullah artinya sunnah-sunnah Allah yang mewujud berupa hukum alam yang menghendaki proses sebab akibat sehingga membuka peluang bagi peran manusia. Seorang mahasiswa ingin menyelesaikan studinya tepat waktu dengan predikat memuaskan.


Keinginan itu bisa tercapai apabila ia bertekad untuk bersunguh-sungguh belajar, mempersiapkan diri serta meningkatkan kuantitas dan kualitas belajarnya sehingga melebihi kadar dan cara belajar yang dilakukan oleh rekan-rekannya. Dalam konteks sunnatullah, sangat mungkin ia bisa meraih apa yang dicita-citakannya itu.


Suatu ketika ada bus yang jatuh ke jurang dan menewaskan seluruh penumpangnya tetapi ada seorang bayi selamat tanpa terluka sedikitpun. Atau ada seorang anak kecil yang terjatuh dari gedung lantai tujuh ternyata tidak apa-apa padahal menurut logika ia pasti tewas. Segala yang mustahil menurut akal manusia sama sekali tidak ada mustahil bila inayatullah atau pertolongan Allah telah turun.


Demikian pula kalau kita berbisnis hanya mengandalkan ikhtiar akal dan kemampuan saja, maka sangat mungkin akan mencapai kesuksesan karena telah menepati persyaratan sunnatullah. Akan tetapi bukankah rencana manusia tidak mesti selalu sama dengan rencana Allah? Dan adakah manusia yang mengetahui persis apa yang menjadi rencana-Nya atas manusia?


Akan tetapi kalau ternyata Dia menghendaki lain, lantas kita mau apa? Mau kecewa? Kecewa sama sekali tidak mengubah apapun. Kecewa yang timbul di hati tidak lain karena kita sangat menginginkan rencana Allah itu selalu sama dengan rencana kita.


Rekayasa Diri


Kalau kita ingin sukses di dunia maka kuncinya adalah, janganlah merekayasa diri dan keadaan tetapi juga rekayasalah diri supaya menjadi orang yang layak ditolong oleh Allah. Lain halnya kalau upaya itu disertai dengan niat yang benar dan ikhlas semata-mata demi ibadah kepada Allah.


Memohon dengan segenap hati kepada-Nya agar sekiranya apa-apa yang tengah diupayakan itu bisa membawa maslahat bagi orang lain serta jangan lupa menyerahkan sepenuhnya segala hasil akhir kepada Allah.


Bila Allah sudah menolong maka siapa yang bisa menghalangi pertolongan-Nya? Walaupun jin dan manusia bersatu menghalangi pertolongan Allah atas hamba-Nya, sekali-kali tidak akan pernah terhalang karena Dia memang berkewajiban menolong hamba-hamba-Nya yang beriman.


“Jika Allah menolong kamu, maka tak ada orang yang dapat mengalahkan kamu. Jika Allah membiarkan kamu (tidak memberikan pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal. (Q.S. al-Bayyinah [98]:7).[*]

Oleh : KH. Abdullah Gymnastiar, Senin 15 Desember 2014

Ketika yang Paling Serius Tidak Diseriusi

SAUDARAKU, benarkah kita yakin bahwa Allah SWT yang menciptakan, menghidupkan dan memberikan rezeki pada kita? Benarkah kita yakin bahwa Allah yang menciptakan dan menguasai langit dan bumi? Kalau benar kita yakin, maka sebesar atau sedalam apakah keyakinan tersebut? Mari kita evaluasi diri masing-masing.


Bila kita mengatakan bahwa keyakinan dan cinta kita kepada Allah harus total dan sedalam-dalamnya, karena Dia-lah Yang Maha Segala-galanya, itu artinya Allah yang paling penting dan paling serius dalam hidup ini. Lalu, mengapa kita tidak serius kepada Allah, dan hanya memberikan sisa dalam hidup ini?


Sehari-hari kita bersujud kepada Allah SWT hanya disisa waktu kesibukan. Kita bersedekah hanya dengan sisa uang jajan. Kita membaca al-Quran hanya sisa membaca SMS, internet, majalah atau koran. Kita menyebut nama Allah SWT juga sisa dari menyebut-nyebut nama keluarga, kenalan maupun nama hewan piaraan.


Dan yang lebih menyedihkan lagi, kita serius serta saling berlomba dan berbangga memelajari ilmu komputer, akuntansi, bahasa, matematika, biologi dan lainnya. Namun ilmu tentang Allah tidak begitu serius dan penting bagi kita. Ilmu tentang Allah hanya sisa, yang seringkali sisa itu pun tidak kita sisakan.


Daripada kepada Allah, kita lebih sibuk pada uang dan orang, lebih mengurus pangkat dan gelar. Dibanding cinta kepada Allah, kita lebih cinta pada makhluk. Dibanding membuka al-Quran, kita lebih asik membuka media sosial. Daripada berzikir, kita lebih menikmati mengingat dan mengenang makhluk yang ditaksir, bahkan kita sering terlambat salat karena sedang ada dia.


Tidak terbayangkan, bagaimana bisa kita berani memberikan sisa-sisa kesibukan duniawi kepada Allah, Tuhan Semesta Alam? Kita bicara jika yang paling serius adalah Allah, tapi kita sendiri sangat tidak serius kepada-Nya.


Kalau benar kita serius kepada Allah SWT, maka kita juga harus serius memelajari, mengenal, mendekat dan mengabdi kepada-Nya. Ilmu tentang Allah harus kita cari dan pelajari, supaya kita semakin mengenal dan semakin larut cinta kepada-Nya. Karena tidak akan ada artinya bila hanya di bibir saja.


Seperti saat terjadi sesuatu yang luar biasa, kita boleh saja mengucap nama Allah. Saat mendapat rezeki kita bisa saja berkata, “Alhamdulillah, Allah Yang Maha Memberi”. Tetapi benarkah kata-kata itu sesuai dengan yang ada di lubuk hati kita yang terdalam? Atau mungkin kita bersusah-payah mengeluarkan suara serak-serak basah, karena sedang berada di depan mertua.


Mungkin kita bisa memajang stiker, ukiran, kaligrafi, spanduk ataupun baliho bertuliskan “Allah” di ruang tamu. Mungkin kita sudah hafal rukun iman sejak memenangkan lomba hafalan di Taman Kanak-kanak. Tetapi apakah kita sudah mengenal siapa dan bagaimana Allah, dan apakah keyakinan dan cinta kita kepada-Nya sudah terpahat dalam di hati?


“Kemudian kepada Tuhanmulah kembalimu lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. Sungguh, Dia Maha Mengetahui apa yang tersimpan dalam dada(mu).” (QS. az-Zumar [39]: 7).


Saudaraku, kalau kita yakin bahwa yang paling penting dan paling serius dalam hidup adalah Allah, kita juga akan serius mengenal-Nya. Kalau kita serius memelajari ilmu yang paling agung, yaitu ilmu tentang Allah, kita juga akan mengenal banyak hal yang ada di bumi, langit atau kehidupan ini. Kapan dan di mana pun yakin bahwa Allah selalu memerhatikan. Dengan begitu hidup kita pun pasti tenang, nyaman dan hati-hati.


Namun hidup pasti resah dan gelisah ketika yang paling serius tidak diseriusi. Setiap saat menjalani bagian demi bagian episode kehidupan akan bingung, bahkan galau. Ketidakseriusan belajar dan mengenal Allah SWT itulah sumber seluruh masalah kita dalam hidup ini.



Nah, ketika saya menulis ini, Allah pasti memerhatikan. Allah juga menatap saudara saat sedang membaca tulisan ini. Allah pasti tahu apa yang ada di lubuk hati kita. Persoalannya, apakah kita benar-benar ingat dan yakin kalau kita sedang diperhatikan-Nya? Mari saudaraku, kita serius mencari dan memelajari ilmu tentang-Nya. Mari kita serius mengenal Allah SWT, Tuhan Semesta Alam. [*]

Oleh : KH. Abdullah Gymnastiar, Kamis 18 Desember 2014

Monday, December 22, 2014

Miskin Bukanlah Kegagalan


Miskin Bukanlah Kegagalan


SAUDARAKU, dulu saya pernah mengikuti dan melatih semacam pelatihan menuju kaya. Namun, sekarang saya sudah berubah pandangan. Bagi saya, hidup tidak harus kaya dan tidak penting menjadi orang kaya. Yang penting adalah cukup dan berkah.

Dalam hidup ini, kita suka dan mudah terkesima pada dunia. Kita menganggap kekayaan sebagai tanda kesuksesan, sehingga orang yang miskin dianggap sebagai orang yang gagal. Padahal, kaya dan miskin itu sama saja. Allah SWT menciptakan kekayaan berbeda-beda bagi setiap orang itu sebagai ujian. Jika Allah menghendaki semuanya kaya, maka amatlah mudah. Karena dunia ini sungguh tidak ada apa-apanya bagi Allah.

Kita lahir dan mati sama-sama tidak membawa apa-apa. Rasulullah saw berdoa, “Ya Allah, hidupkan aku dalam keadaan miskin, matikan dalam keadaan miskin, dan kumpulkan saya bersama orang miskin.” Namun harus diingat bahwa miskin di sini artinya tawadhu. Yaitu tidak silau pada gemerlap duniawi. Dan bukan fakir, karena Rasulullah pun berdoa, “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kekufuran dan kefakiran.”

Dengan izin Allah SWT, saya pernah melihat maket rumah Rasulullah saw di Madinah. Dan masya Allah, rumah beliau di sebelah masjid itu tidak terlalu tinggi. Kalau beliau berdiri tahajud, maka akan terlihat. Atapnya terbuat dari pelepah kurma. Tidak ada sofa, apalagi singgasana. Di lantainya tidak ada marmer, di pintu tidak ada bel. Tidak ada perabotan mewah, kecuali kendi. Rasulullah tidur di atas anyaman daun kurma yang kasar dan membekas di badan. Terkadang Siti Aisyah tidak memasak, dan yang ada hanya kurma dan air.

Betapa tawadhu, bahkan seolah-olah hampir terkesan fakir. Tetapi tidak fakir, karena setiap rezeki yang beliau peroleh segera beliau bagi-bagikan kepada orang-orang yang membutuhkan. Beliau tidak pernah bisa merasa tenang selama melihat orang lain kelaparan atau kehidupan sehari-harinya tak tercukupi.

Sederhananya rumah Rasulullah pernah membuat Umar bin Khaththab amat sedih, ketika melihat kandang hewan piaraan tetangganya yang dibangun megah di zamannya. Rasulullah itu manusia paling mulia dan dijamin surga. Pemimpin yang tiada bandingannya, hasil perjuangan beliau monumental dan menjadi sumber peradaban. Rumah sederhana beliau itu tempat turunnya wahyu. 

Nah, saudaraku, kita ini siapa? Kemuliaan kita tidak jelas, dan yang jelas cuma dosa. Mengapa kita harus malu kalau hidup miskin atau tawadhu? Mengapa orang yang miskin kita anggap gagal? Seharusnya kita yang banyak bergaya dengan barang-barang pinjaman dan cicilan ini yang malu dan merasa gagal. Kita yang tidak bahagia.

Jadi, jangan malu atau minder oleh kekurangan, karena itu merupakan ciri pecinta dunia. Hidup ini seharusnya tenang saja. Kita tidak perlu malu, misalkan hanya punya rumah sederhana atau “RS pangkat tiga”. Karena gubuk maupun istana sama-sama milik Allah, dan kita sama-sama menumpang. Bahkan rumah sederhana itu lebih aman. Lebih aman dari kesombongan, sebab tidak ada yang bisa disombongkan. Dan lebih aman dari maling, karena maling pun prihatin.

Yang penting hidup kita cukup. Misalkan saat pergi ke pengajian, kita punya cukup untuk ongkos angkot. Kalau angkot sering sepi karena protes kenaikan BBM, maka kita punya cukup untuk membeli motor. Dan kalau naik motor jadi sering sakit dikarenakan musim hujan, maka kita pun cukup untuk membeli jas hujan. Beli mobil nanti, setelah cicilan motor lunas.

Maksudnya, kita punya cukup untuk memenuhi keperluan. Bukan cukup untuk memuaskan nafsu atau keinginan. Dan cukupnya keperluan itu tidak ada hubungannya dengan kaya atau miskin. Tapi, “Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu.” (QS. ath-Thalq [65]: 3).

Jadi, saya tidak mengajak saudara hidup bermalas-masalan dan fakir. Namun, supaya kita tidak silau terhadap gemerlap dan gemerincing duniawi yang lebih mudah membuat kita lalai, sehingga mendatangkan petaka. Dan mengajak kepada saudara, yang apabila “jatah hidup” saudara memang miskin, maka jangan takut maupun malu.

Orang yang miskin bukanlah orang yang gagal. Karena dunia ini cuma sebentar. Hanya seperti sebatang pohon tempat berteduh bagi seorang pejalan, yang sekejap berlalu pohon itu pun segera ditinggalkan. Dan pejalan itu adalah kita.

“Dan janganlah engkau tujukan pandangan matamu kepada kenikmatan yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka, (sebagai) bunga kehidupan dunia, agar Kami uji mereka dengan (kesenangan) itu. Karunia Tuhanmu lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Thh [20]: 131).

Oleh : KH. Abdullah Gymnastiar, Jumat 12 Desember 2014

Syukuri dan Jalani


Syukuri dan Jalani


SAHABAT, selalu syukuri dan jalani apa yang telah kita peroleh. Setiap kepahitan dan kesulitan yang kita alami dan membuat menderita, sesungguhnya lebih kecil dibanding nikmat dan karunia dari Allah SWT. Sangat tidak adil bila kita sibuk mengeluhkan kesakitan, kesulitan dan kesukaran yang kita alami, dibandingkan dengan nikmat dan karunia Allah yang lain.

Contoh, bila kita mengalami sakit gigi, kita akan sibuk dengan satu gigi yang sakit tanpa hirau dengan gigi lainnya yang tidak sakit. Padahal lebih banyak mana, gigi yang sakit atau tidak? Atau ketika ada jerawat di hidung atau pipi, kita sibuk dengan satu jerawat yang mengganggu pipi atau hidung kita itu, tanpa bersyukur dengan hidung atau pipi yang tidak terkena jerawat.

Ketika sakit gigi atau jerawat di pipi, kita sibuk memperhatikan satu kesakitan yang menimpa. Namun, kita lupa dengan nikmat lain yang masih Allah berikan. Seakan dunia runtuh dengan kesakitan yang dialami. Amat tak adil bagi Allah bila kita selalu mengeluhkan masalah kita dan tidak mensyukuri nikmat telah Ia berikan.

Contoh lain, ada yang menghina kita. Padahal yang menghina cuma satu orang. Namun kita sibuk dengan perasaan dan orang yang menghina itu. Malah kita ikut hanyut dalam umpatan dan hinaan juga. Kita lupa, lebih banyak orang yang sayang dan cinta kepada kita daripada yang menghina dan mengumpat. Waktu pun kita habis memikirkan hal-hal yang membuat kita lalai mengingat-Nya. Padahal, begitu banyak nikmat dari Allah SWT yang kita peroleh, dibandingkan kesedihan dan kesulitan yang kita hadapi.

Jadi, selalu mensyukuri segala nikmat dan karunia dari Allah SWT. Semakin kita banyak bersyukur, maka Ia akan tambah nikmatnya. Itu janji Allah. "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku),maka pasti azab-Ku sangat berat."(QS. Ibrahim [14]: 7).

Oleh : KH. Abdullah Gymnastiar, Jum'at 19 Desember 2014

Wednesday, August 10, 2011

n u a n s a bening

oh tiada yang hebat dan mempesona
ketika kau lewat di hadapanku biasa saja

waktu perkenalan terjalin sudah
ada yang menarik pancaran diri terus mengganggu

mendengar cerita sehari-hari
yang wajar tapi tetap mengasyikkan

oh tiada kejutan pesona diri
pertama kujabat jemari tanganmu biasa saja

masa perkenalan lewatlah sudah
ada yang menarik bayang-bayangmu tak mau pergi

dirimu nuansa-nuansa ilham
hamparan laut tiada bertepi

kini terasa sungguh
semakin engkau jauh
semakin terasa dekat

akan tumbuh kembangkan
kasih yang kau tanam di dalam hatiku

menatap nuansa-nuansa bening
jelasnya doa bercita

Perjuangan untuk Bergembira

Apa saja butuh diperjuangkan termasuk kegembiraan. Di rumah, saya tak henti-hentinya mengampanyekan perjuangan ini, karena keluarga adalah tulang punggung semua urusan. Kegembiraan adalah sebuah mata rantai, yang ketika satu saja terputus, semua akan berantakan. Di kantor, Anda boleh sedang meledak oleh kegembiraan karena baru saja naik jabatan. Tetapi apa jadinya jika anak Anda harus masuk rumah sakit secara bersamaan.

Apa jadinya jika anak itu bukannya sakit, tapi malah minggat oleh sebuah kenakalan. Ketimbang kumpul bersama keluarga, ia memilih kabur bersama geng motornya karena sebuah alasan. Jika ini terjadi, seluruh kenaikan karier di kantor hanya akan Anda kutuki. Musibah yang datang tepat di hari keberutungan, pasti soal yang amat menjengkelkan.

Banyak sekali pemutus kegembiraan itu, mulai dari soal-soal besar yang tak terhindarkan sampai soal-soal kecil hasil sebuah kekonyolan. Piknik keluarga yang dibayangkan akan penuh tawa dan kegembiraan bisa berubah menjadi ajang pertengkaran cuma karena satu dua barang ketinggalan.

Semua faktor pemutus itu mengintip dan mengepung di sekitar kita. Ia membutuhkan kewaspadaan penuh untuk menangkalnya. Dan sikap waspada itu harus menjadi komitmen bersama, karena satu saja anggota keluarga teledor, seluruh bangunan akan runtuh kembali dan menyisakan cuma pondasinya.

Misalnya begini: saya punya kebiasaan mengajak seluruh keluarga untuk memberi kontribusi kegembiraan di pagi hari dengan cara membuang muka cemberut. Kalau perlu usahakan tertawa dan bernyanyi. Berat, tetapi semua harus berusaha, tak terkeculai saya. Jika tubuh lemas karena kesadaran belum sempurna usahakan untuk segera mengusirnya.

Caranya dengan bergerak secepat dan sesering mungkin, jingkrak-jingkrak kalau perlu. Tak peduli di kepala mulai penuh dengan beban harian: yang bapak beban pekerjaan, yang ibu beban rumah tangga, yang anak beban sekolahan, tak boleh membuat kita menjadi egois. Semua orang punya beban, maka orang tak boleh memindah beban sendiri ke pihak lain sebagai beban tambahan mereka.

Maka jika semua orang sudah mencoba bergembira kok masih ada satu anggota keluarga yang cemberut, misalnya hanya karena belum mengerjalan PR atau HP-nya nyelip entah ke mana, kami anggap ia gagal komitmen. Ia tidak menghargai azas gotong royong pihak lain yang telah bersusah payah membuat pagi agar terasa lebih indah.

Sungguh, kindahan pagi itu tidak akan datang sebagai hadiah. Tak peduli udara pagi selalu lebih segar, tak peduli apakah di pagi hari burung-burung selalu beryanyi tetapi bagi hati yang sumpek, semuanya tak punya arti. Alam memang memberikan banyak setiap kali, tetapi percuma saja jika kita tidak punya tempat untuk menerima.

Apa yang sedang saya upayakan itu adalah mengajak siapa saja untuk lebih punya kesiapan menerima. Kegembiraan adalah sejenis udara bebas yang harus kita tangkap dengan memertinggi daya dan pemancar penerima. Dan pemancar itu, tidak bisa dibangun sendiri, tapi harus bersama-sama.

Thursday, August 04, 2011

Antara Cinta dan Kesulitan

Antara cinta dan kesulitan terdapat satu kesamaan, yakni agar orang lain mengerti, ia butuh ditunjukkan, tak terkecuali pada anak-anak sendiri. Kejadian yang menimpa istri saya ini salah satu buktinya.

Saya tahu hari itu benaknya berat oleh serangkaian persoalan. Persoalan itu saya tau tak cuma berhenti di pikirannya tapi juga telah melesak ke batinnya. Ia mengaku perutnya seharian mual dan ia menduga sendiri sebabnya. "Mungkin karena aku banyak pikiran," katanya yang segera saya iyakan. Saya tak perlu ragu untuk menyetujui apa yang ia rasakan karena persoalannya adalah juga persoalan yang sedang saya rasakan.

Tepat di saat penuh persoalan itulah anak-anak kami meminta sesuatu dan ketika permintaannya ditolak mereka bereaksi secara keliru. Anak yang kecewa itu menganggap orang tuanya cuma bisa menolak dan amat jarang membahagiakan mereka dengan cara mengabulkan segera permintaannya. Sementara istri tampak terpukul oleh sikap anak-anak yang dianggap tidak tanggap keadaan, anak-anak juga mengurung diri karena merasa hatinya melulu dibuat kecewa.

Di mana posisi saya? Mestinya saya berada di pihak istri. Karena inilah aturannya: anak meminta, istri mengabulkan tapi sayalah yang mencari uangnya. Jadi persoalan istri, persoalan saya juga. Kalau istri kekurangan uang, karena uang yang saya setorkan kepadanya memang sedang tak ada. Maka ketika dalam keadaan tak ada, anak-anak merengek sesuka hatinya, pasti hanya akan membuat kami kecewa. Hampir saja saya bergabung dengan istri untuk marah secara bersama-sama. Untung saya membatalkan niat ini dan memilih berpikir sejenak dari sudut pandang mereka. Saya cukup membayangkan masa kanak-kanak saya sendiri dahulu kala.

Saat itu soal yang paling saya tahu adalah meminta. Bukan memahami keadan orang tua. Tak peduli separah itu kemiskinan keluarga, tak henti-henti saya merengek dan meminta.Jadi begitulah juga anak-anak saya kini. Kesimpulaan saya jelas: saya sedang berhadapan dengan pihak yang sedang tidak tahu. Maka tugas saya mudah saja sebetulnya: tinggal memberi tahu. Saya segera meminta anak-anak berkumpul lengkap dengan ibunya. Saya bercerita tentang persoalan istri yang anak-anak harus mendengarnya. Dimulai dari berapa gaji bapaknya sebagai wartawan.

Setelah paham jumlahnya, anak-anak saya ajak melihat seluruh kebutuhan keluarga lengkap dengan ruang lingkupnya, dimulai dari kebutuhan mereka sendiri.Hasilnya, mereka sama-sama melihat kenyatan ajaib: bahwa SPP, buku, nonton, seragam, uang saku, uang mainan, uang jajan, renang, makan di luar, selama sebulan sudah menelan hampir seluruh gaji bapaknya. Jadi dengan cepat mereka tahu, bahwa orang tuanya bukan orang kaya.

Jika selama ini kehidupan mereka berjalan baik-baik saja, karena orang tuanya harus berakrobat sedemikian rupa. Dan biar lebih dramatik, saya beberkan seluruh kebutuhan keluarga lengkap setiap bulannya: listrik, ledeng, telepon, pulsa, belanja harian, baju, buku, sepatu, iuran ini, iuran itu, sumbangan ini, sumbangan itu, bantuan untuk saudara ini, bantuan untuk saudara itu, bayar asuransi, gaji pembantu, gaji pak sopir, ... panjang sekali daftar itu, saya buat perinciannya, saya jumlahkan, saya bandingkan lagi dengan gaji resmi dan saya sodorkan kekurangannya untuk saya meminta pendapat mereka dengan cara apa kekurangan itu harus diperoleh.

Hasilnya lumayan. Anak-anak itu menunduk dan akal sehat mereka mulai bekerja betapa tanpa kerja keras, begitu gawat keadaan orang tuanya. "Kalian meminta, tepat ketika ibumu sedang memecahkan seluruh kesulitan keluarga," tambah saya. Anak-anak makin menunduk. Dan hasil akhirnya, si kecil menyerahkan buku tabungannya untuk dihibahkan, si sulung menguras isi dompetnya untuk diserahklan kepada Ibu mereka. Kini ganti istri saya yang menunduk kehilangan kata-kata.

Begitulah watak cinta dan kesulitan. Tak perlu banyak diperdebatkan, lempar saja datanya, dan biar pihak lain yang mengurai dengan akal sehatnya, termasuk anak-anak kita.